Dewan Pers Sarankan Metro TV Tak Buru-buru Gugat Dipo Rp 101 T


 

 

Jakarta – Dewan Pers menyarankan Metro TV dan Media Indonesia tidak mengambil langkah hukum dalam menghadapi Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam. Sebaiknya Metro TV dan Media Indonesia berunding lebih dahulu dengan Dipo, dengan difasilitasi Dewan Pers.
“Kenapa harus buru-buru ke pengadilan, masih banyak waktu, kita dengar dahulu keterangannya. Apa persolaannya, apa benar-benar tidak dapat diselesaikan dengan mediasi? Pengadilan lama, makan waktu dan biaya,” kata Wakil Ketua Dewan Pers Bambang Harymurti saat dihubungi detikcom, Senin (28/2/2011).

Bambang menyarankan, sebaiknya urusan Media Group dan Dipo Alam diselesaikan dengan UU Pers dan melalui mediasi. “Tugas Dewan Pers membangun adalah komunikasi masyarakat dan pemerintah. Dan kalau gugatan ini berarti ada komunikasi yang terputus,” jelasnya.

Dewan Pers siap memfasilitasi kedua belah pihak. Baik aduan Metro TV yang mengaku terhambatnya urusan narasumber dan aduan Dipo yang mengaku diberitakan terus di running text.

“Di UU Pers, siapa yang menghambat kemerdekaan pers bisa kena pidana 2 tahun, nanti ini kita selesaikan TV One juga bisa,” terangnya.

Dewan Pers akan mencari penyelesaian yang terbaik bagi kedua belah pihak. “Kita nanti akan minta kehadiran masing-masing pihak, kita mediasi dahulu, kalau sudah ada titik temu, baru kita pertemukan. Kalau tidak ada titik temu juga Dewan Pers akan melakukan jumpa pers terkait persoalan ini,” urainya.

Sebelumnya, selain digugat secara pidana, Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam juga digugat secara perdata oleh Metro TV dengan nilai gugatan Rp 101 triliun. Kuasa hukum Dipo, Amir Syamsuddin, mengaku kliennya tak punya uang sebanyak itu.

“Pak Dipo tidak punya uanglah sebanyak itu,” ujar Amir Syamsuddin dalam konferensi pers di gedung Dewan Pers, Jl Kebon Sirih, Jakarta.

Menurut Amir, sah-sah saja jika Media Group juga melakukan gugatan perdata. Namun jumlah gugatan itu terlalu banyak. Dengan gugatan itu, Amir mengatakan pihaknya siap menghadapinya. Sekretaris Dewan Pertimbangan Partai Demokrat (PD) ini tidak akan menganggap remeh pihak penggugat.

“Yang penting tidak pernah mengganggap remeh itu, tetapi kita juga tidak perlu terlalu takut,” kata Amir.

Satu Tanggapan

  1. Dipo Alam adalah sebuah blunder, dan media TV lain pun membuat blunder besar dan tidak sadar.

    Atika Sunarya dan TV ONE adalah wartawan dan media televisi tolol dan dan bodoh dan harusnya diadili di PN pagi ini karena telah melakukan trial by the press. Atika Sunarya di TV ONE mengatakan bahwa Abu Bakar Ba’asyir “terlibat” aktivitas terorisme dan pendanaan terorisisme di Aceh. Atika Sunarya dan TV ONE tidak mengatakan “diduga/dituduh” terlibat …. Harusnya Atika Sunarya dan TV ONE yang diadlidi di PN.
    Tak ada wartawan dan media di dunia ini yang berani melakukan trial by the press kecuali Atika Sunaray dan TV ONE. Bagaimana mereka tahu Abu Bakar Ba’asyir adalah teroris? Bagaimana Atika Sunarya dan TV ONE serampangan dan berani main tuduh dan mendakwa? Inilah sebuah bangsa yang sakit akibat media di negara ini sendiri yang tidak akurat dan terbawa misi pemfitnahan keji terhadap anak bangsa sendiri, tanpa bukti dan hanya berangkat dari opini yang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu. Adalah sembrono dan ketololan TV ONE. Media-media TV Barat yang sangat berani tidak pernah melakukan trial by the press dan selalu mengatakan “diduga” maupun disebut-sebut. Dan bila kita membaca di sebuah sumber penting, misalnya, di Wikipedia saja, tak ada yang berani mengatakan seperti Atika Sunarya dan TV ONE. Wikipedia menulis misalnya bahwa: “Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud, biasa juga dipanggil Ustadz Abu dan Abdus Somad (lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Agustus 1938; umur 72 tahun), merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia keturunan Arab. Ba’asyir juga merupakan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu’min. Berbagai badan intelijen menuduh Ba’asyir sebagai kepala spiritual Jemaah Islamiyah (JI), sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan al-Qaeda.” Abu Bakar Ba’asyir membantah karena dia memang bukan teroris. Dia hanya kiyai biasa, punya pesantren, untuk memberikan ilmu agama dan mencari nafkah keluarga dan saudara-saudaranya. Kami adalah wartawan-wartawan investigatif. TV ONE adalah sebuah penyebar kebohongan. Kita harus hati-hati dengan media-media buruk total seperti ini. Atika Sunarya dan TV ONE ternyata adalah wartawan pelanggar kode etik jurnalistik (universal) yang berlaku di seluruh dunia. Negara ini makin hancur karena ulah media-media lokal seperti ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: