Darah Indonesia Bertebaran di Cape Town


KOMPAS.com — Indonesia dan Afrika Selatan atau Afsel sebenarnya punya hubungan batin amat kuat. Darah Indonesia banyak bertebaran di Cape Colony atau yang kini disebut Cape Town, kemudian juga menyebar ke daerah-daerah lain di negeri itu.
“Darah Anda mengalir di tubuh saya. Darah saya juga mengalir di tubuh Anda,” begitu kata Kop, orang coloured (blasteran), warga Cape Town, seusai mendengar cerita Kompas.com, 6 Juli lalu.

“Ternyata, Anda saudara,” tambahnya, sambil memeluk Kompas.com.

Maklum, banyak warga coloured kurang sadar asal-usul mereka. Bahkan, mereka sebagian tak tahu Indonesia. Yang mereka tahu Malaya atau Malay sebab orang-orang Indonesia hadir di Afsel saat belum ada kata “Indonesia”. Maka dari itu, orang-orang Cape Town sempat dinamakan Cape Malay.

Afsel didominasi empat ras: kulit hitam, putih, India, dan coloured. Orang coloured adalah blasteran putih-hitam-Asia. Cape Town didominasi warga coloured. Gen dan darah Indonesia di dalam tubuh warga coloured cukup dominan.

Warga Indonesia yang datang ke Afsel sebagian besar merupakan buangan atau tahanan politik dan juga budak. Dutch East Indies Company (VOC) membangun benteng Good Hope pada 1666. Benteng itu dibuat sebagai tempat transit antara Belanda dan Indonesia.

Namun, VOC sebelumnya sudah membawa budak Indonesia ke Cape Town, Afsel. Bahkan, budak pertama yang dibawa ke Cape Town berasal dari Indonesia, yakni Abraham van Batavia, pada 1653.

Sejak itu, banyak budak yang dibawa ke Cape Town dari Melayu (termasuk Indonesia), India, Sri Lanka, Mauritius, Madagaskar, dan daerah lain antara 1652 dan 1818. Selama itu, budak Indonesia terbanyak kedua setelah India.

Menurut catatan Arsip Nasional, budak India 36,40 persen, Indonesia sebanyak 31,47 persen, Afrika 26,65 persen, Sri Lanka 3,10 persen, Mauritius 0,18 persen, Malaysia 0,49 persen, dan daerah lain 1,71 persen.

Para budak itu berkembang biak dan menjadi dominan di Cape Town dan disebut Cape Malay. Terjadi kawin silang pula antara warga Indonesia dan penduduk asli, orang putih, dan ras lain hingga akhirnya mereka menjadi warga coloured.

Maka dari itu, dalam komunitas coloured, pengaruh dan keturunan Indonesia termasuk banyak, apalagi budak asal Indonesia juga banyak. Bahkan, sampai sekarang ada beberapa bahasa Indonesia yang masih dipakai warga coloured. Sebagai misal belajar, buka, tuan, kramat, kemeja, dan sebagainya.

Belum lagi banyak tahanan politik yang dibawa Belanda ke Cape Town. Salah satunya Syeikh Yusuf. Saat dibawa ke Cape Town, Syeikh Yusuf bersama dua istrinya, 12 anaknya, 12 imam, dan 49 pengikutnya menggunakan kapal Voetboog.

Syeikh Yusuf dan pengikutnya merupakan penyebar agama Islam pertama di Afsel, terutama Cape Town. Dia dan pengikutnya serta para budak juga membawa budaya Indonesia ke Afsel.

Banyak warga Indonesia sebagai tahanan politik atau budak tetap tinggal di Afsel sampai beranak pinak. Mereka juga melakukan kawin silang. Dan, dalam 400 tahun sejarah, sudah banyak keturunan Indonesia yang menjadi bagian dari Cape Malay atau coloured people.

“Siapa tahu, ada darah Indonesia pula di dalam tubuh saya. Yang saya tahu, saya keturunan coloured. Coloured people itu keturunan blasteran. Maka, saya sangat ingin pergi ke Indonesia suatu saat nanti,” kata Chris Mullins, warga Pretoria asal Cape Town.

Warga Cape Town lain, Karim, mengatakan, dia tahu Indonesia karena Tuan Yusuf (Sheiykh Yusuf) dari Indonesia.

“Kehadiran Anda menjelaskan banyak hal. Ternyata, banyak warga coloured keturunan Indonesia juga. Ah, kita ternyata bersaudara,” ujar Karim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: