Harun 11 Tahun Berjualan Kompas


KOMPAS.com- Sebelum fajar menyingsing di saat hampir banyak warga masih terlelap, Harun (61) sudah siap untuk pergi bekerja. Tepat pukul 04.30 WIB, ia sampai di sebuah agen koran di dekat rumahnya yang terletak di bilangan Gunung Sahari, Jakarta.

Dari sang agen, ia mendapatkan puluhan eksemplar media massa untuk dibagikan kepada para pelanggan. Dengan mengayuh sepeda tuanya, ia susuri belasan kilometer perjalanan untuk mengantarkan koran kepada para pelanggan.

“Biasanya baru beres jam 11. Setelah itu cari-cari pelanggan baru, baru saya pergi lagi siang untuk membagikan koran sore,” ujar Harun, Sabtu (10/7/2010), saat ditemui pada acara Rekreasi Bareng Kompas dan Loper di Dunia Fantasi, Ancol.

Rutinitas menjadi loper koran terus dijalaninya dengan penuh kesabaran. Menjadi loper koran pun sudah menjadi sebuah ketetapan hati Harun. “Saya bersyukur, dari jual koran saya bisa sekolahkan anak-anak sampai SMA. Tapi, kalau kuliah saya nggak mampu,” ujar bapak dua anak ini.

Sebelum menjadi loper, Harun pernah bekerja di bank selama 20 tahun. Namun, ia berhenti karena gaji yang didapat sangat kecil. Menjadi loper koran, ia mengaku dalam sebulan bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 750.000. “Itu hanya dari Kompas saja. Yang paling besar memang Kompas kasihnya ke loper,” aku pria asli Betawi ini.

Ia pun bercerita saat ini jumlah pelanggannya hanya sekitar 70 orang. Jumlah ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan saat awal-awal ia menjadi loper koran. “Dulu pelanggan saya ada sekitar 100-an dan wilayahnya juga sampai Kemayoran. Tapi karena sudah tua, agen suruh yang sekitar Gunung Sahari saja,” ujarnya.

Menurut Harun, semakin banyak pelanggan semakin besar penghasilan yang diterimanya. Untuk itu, usai mengantar koran, ia pun selalu menyempatkan diri mencari pelanggan ke daerah perumahan.

Meski terkesan menikmati pekerjaannya itu, Harun juga acap kali merasa miris ketika mengayuh sepeda tua untuk mengantar koran. “Sering kali tidak dihargai,” katanya.

Ia lalu berkisah tentang cuaca di Jakarta. Kalau pagi hujan, ia terpaksa menunggu reda dulu baru mengantar koran. Takut koran yang diantarnya basah kehujanan. “Tapi pelanggan suka ngomel karena telat dianter. Mereka sering nggak mau tau,” ujarnya.

Kalaupun nekat berhujan-hujan dan koran yang diantar basah, pelanggan juga ngomel. “Kena omel lagi deh kalau itu juga terjadi. Yah, sudah bersabar saja,” ungkap Harun pasrah.

Meski demikian, ia merasa senang dengan pekerjaanya sebagai loper ini. “Karena hasilnya lumayan, saya masih tetap berencana jadi loper koran sampai badan sudah nggak mampu lagi geos sepeda,” ungkapnya.

Semangat Harun yang tinggi memang sering terkendala dengan kondisi fisiknya yang tak lagi prima. Penyakit kram pada kaki tak jarang menyergapnya ketika malam menjelang. Meski demikian, ketika fajar kembali menyapa, segala sakit yang dirasakannya seakan hilang karena Harun ingat sudah harus kembali beraktivitas menyebarkan koran kepada para pelanggan.

Hanya satu pinta loper koran yang raut muka dan tangannya sudah banyak kerut ini, “Saya cuma pengin ekonomi jangan kayak sekarang. Apa-apa mahal. Padahal, penghasilan nggak naik-naik, pelanggan juga segitu-gitu saja,” ujar Harun menutup perbincangan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: