Pelatihan ESQ Dituding Sesat di Malaysia


JAKARTA, KOMPAS.com Satu dari 13 mufti atau ulama di Malaysia mengeluarkan fatwa sesat atas training Emotional and Spiritual Quotient atau ESQ milik Ary Ginanjar. Mufti ini menilai ajaran ESQ bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, langkah ini dianggap berlebihan oleh salah seorang tokoh NU.

Fatwa tersebut ditandatangani oleh Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia tanggal 17 Juni 2010 dan dipublikasikan situs http://www.muftiwp.gou.my pada Rabu (7/7/2010). Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, Datuk Hj Wan Zahidi bin Wan Teh, menganggap ajaran ESQ Ary Ginanjar dapat merusak akidah dan syariat Islam.

Ciri-cirinya, ESQ mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Alquran dan Assunnah secara bebas. ESQ mengajarkan bahwa pada dasarnya ajaran semua agama adalah benar dan sama.

ESQ juga dianggap menuduh para nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian. Ini sangat bertentangan dengan akidah Islam soal nabi dan rasul.

Tuduhan lain adalah, ESQ mencampuradukkan ajaran kerohanian bukan Islam dengan ajaran Islam. Mufti juga melihat ESQ menekankan konsep “suara hati” sebagai rujukan utama dalam menentukan baik-buruk suatu perbuatan.

Selain itu ESQ menjadikan logika sebagai rujukan, bukannya Alquran dan hadis. Mukjizat juga tidak dipandang di ESQ karena bertentangan dengan keadaan zaman sekarang yang mengedepankan logika.

ESQ kini memiliki cabang di seluruh Indonesia, bahkan di Singapura, Brunei Darussalam, dan Malaysia juga sudah banyak pengikutnya. Pelatihan ESQ terbuka bagi semua agama dan kepercayaan.

Menanggapi hal ini, Head of President Director Office ESQ Dwitya Agustina menjelaskan, Ketua Umum ESQ Ary Ginanjar sudah pernah bertemu dengan seluruh mufti di Malaysia untuk menjelaskan pelatihan ESQ yang disebut-sebut melenceng dari ajaran agama Islam. Namun, Mufti wilayah Persekutuan yang mengeluarkan fatwa haram justru tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

“Dalam muzakarah atau sidang dengan semua mufti pada tanggal 16 Juni 2010, Bapak Ary Ginanjar sudah menjelaskan satu per satu perkara yang disampaikan dalam fatwa tersebut,” ujar Dwitya Agustina, Rabu.

Setahun lalu di Malaysia sudah beredar isu pelatihan ESQ merupakan ajaran sesat. Oleh karena itu, Ary pun mengadakan pertemuan dengan semua mufti untuk menjelaskan isu tersebut. Dalam pertemuan tersebut memang Mufti Wilayah Persekutuan tersebut tidak hadir. Padahal, kesimpulan dari sidang tersebut, 13 mufti lainnya tidak mengharamkan dan meluluskan pelatihan ESQ.

“Keesokan harinya, pada tanggal 17 Juni 2010, Mufti Wilayah Persekutuan mengeluarkan fatwa haram tanpa pernah bertemu dengan Ary Ginanjar untuk mendapatkan penjelasan,” ungkapnya.

Hingga kini, lanjut Dwitya, pihaknya masih terus berupaya untuk berkomunikasi dengan pihak Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia yang meliputi Kuala Lumpur, Putrajaya, dan Labuan.

Namun, komunikasi di antara kedua pihak masih belum terjalin. “Sampai sekarang belum bisa (komunikasi). Yang pasti sampai sekarang upaya komunikasi masih terus dilakukan,” ujarnya.

Ary Ginanjar yang kini masih berada di Australia terus memantau perkembangan kasus yang membelit pelatihannya ini. “Beliau terus memantau dan tetap koordinasi dengan kami dan Malaysia. Baru sepuluh hari lagi beliau kembali ke Tanah Air,” kata Dwitya.

Salah satu Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), Slamet Effendi Yusuf, menilai, fatwa sesat yang dikeluarkan Mufti Persekutuan Malaysia terhadap ESQ Ary Ginanjar sangat berlebihan. Menurut Slamet, dalam pelatihan, Ary mendakwahkan masalah hati yang tidak dilepaskan dari ajaran Alquran.

“Setahu saya Ary Ginanjar itu mendakwahkan masalah hati tidak dilepaskan dari ajaran Alquran. Jadi menurut saya berlebih-lebihan kalau itu diharamkan,” kata Slamet kemarin.

Slamet mengingatkan bahwa setiap pendidikan diarahkan untuk mengeluarkan potensi yang dimiliki, kekuatan hati, dan dimanifestasikan dengan motivasi dan metode tertentu. Pola ini boleh-boleh saja dan bahkan banyak anggota PBNU mengikuti pelatihan ESQ.

“Setahu saya banyak yang ikut ESQ. Itu seperti kita ngaji aja, untuk tambah ilmu, itu sah-sah saja. Itu kan bagian dari pengelanaan dan pengembaraan pencarian ilmu,” kata mantan politisi Golkar ini.

Slamet menambahkan, jika memang ulama-ulama di Malaysia menganggap ada hal yang bermasalah dari ESQ Ary, hal itu seharusnya disampaikan kepada yang bersangkutan. Sebaliknya, Ary juga harus terbuka terhadap kritik.

“Namanya orang untuk memperbaiki diri, tidak perlulah itu untuk diharamkan,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: