Cak Wanita ISI Denpasar Tampil Memukau


Denpasar (ANTARA) – Cak Wanita Bungan Sandat Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tampil memukau penonton dalam ajang bergengsi Pesta Kesenian Bali ke-32 di Taman Budaya Bali di Denpasar, Jumat (2/7) malam.

Kelompok kesenian cak wanita yang beranggotakan ibu-ibu Darma Wanita Persatuan (DWP) itu tampil percaya diri di panggung Kesirarnawa yang disaksikan ribuan penonton.

Kesenian kecak yang selama ini hampir selalu dibawakan seniman pria, kini penampilannya agak berbeda karena seluruhnya melibatkan peran wanita.

Penampilan kesenian kecak Wanita Bungan Sandat ISI Denpasar itu tampil beda dari biasanya, yakni kali ini menyelipkan tetembangan dalam setiap sela pementasan. Selain itu menyampaikan pesan lewat “bebondresan” dengan iringan “geguntangan”.

Sementara keindahan wanita diinspirasikan lewat pembentukan formasi bunga-bunga di sela-sela penampilan cak dengan menggunakan media kipas.

Selain itu kemasan bondres dibuat kocak, yang mampu menjadikan paket cak cukup menarik. Pada bondres disampaikan bahwa wanita dalam hal ini ibu, memiliki peranan besar membina rumah tangga.

Hal penting lainnya sebagai seorang ibu, sekaligus memiliki mandat untuk mengarahkan suami agar bertindak pisotif.

Cerita dalam garapan tersebut dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, di antaranya pertengkaran kecil terjadi dalam rumah tangga, karena sang suami terlalu mabuk dalam judi tajen atau sabung ayam.

Sang istri terus berupaya untuk menyakinkan suami agar tidak hanyut dalam permainan judi yang pasti merugikan.

Namun suami tidak mempedulikan pesan istri hingga akhirnya “karma” (perbuatan) menimpanya. Pesan-pesan singkat lewat lawakan menjadikan suasana begitu mencair. Apalagi adegan “metajen” sang suami benr-benar diperankan secara alami.

Tak ayal ayam jago pun masuk ke ranah panggung untuk tampil mendukung pementasan. Sontak polah tingkah ayam itu menarik perhatian penonton. Termasuk Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Ida Bagus Sedhawa dan Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Bali Nyonya Bintang Puspayoga yang menyaksikan pergelaran hingga berakhir.

Pementasan tersebut dikoordinir Asti Pertiwi dari “skaa” atau kelompok tabuh wanita ISI Denpasar, Ni Ketut Suryatini, M.Sn didukung Ketua Darma Wanita ISI Denpasar I Gusti Ayu Srinatih, S.ST, M.Si.

Pertunjukan yang melibatkan peran wanita itu dinilai sangat penting dalam menjalin keakraban dan kebersamaan antar anggota.

Pada awal pementasan juga disuguhkan tari pembuka untuk menyambut kedatangan tamu-tamu serta penonton, oleh seniman cilik yang tergabung dalam Sanggar Karawitan Gangsa Dewa, dengan lihai memainkan alat musik gender.

Tiga puluh enam penabuh yang rata-rata berusia 7-13 tahun memaikan gending tabuh antara lain berjudul Tulang Lindung, Seketi, Sekar Taman, Cucuk Punyah, Merak Nyelo, serta Cecek Megelut.

Menurut pembinanya, Ni Ketut Suryatini, yang juga dosen karawitan ISI Denpasar, anak-anak tersebut berlatih secara intensif dua kali dalam seminggu.

Mereka sangat antusias untuk belajar gender, walaupun ada kesan bermain alat musik tersebut sulit. Namun dengan metode dan teknik pengajaran yang menarik, menjadikan mereka rajin untuk terus berlatih.

Kini keanggotaan sanggar sudah sekitar 60 orang. Rencana kedepan akan membuat konser gender khusus anak-anak.

Dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk turut tampil dalam ajang bergengsi itu, diharapkan dapat memotivasi generasi lain untuk berkarya, ucap Suryatini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: