Kisah Kesederhanaan Si Anak Menteng


PRODUSER:  Raam Punjabi, PRODUKSI: Multivision Plus, PENULIS NOVEL: Damien Dematra, SUTRADARA: John De Rantau,  PEMAIN:  Hasan Faruq Ali (Barry), Cara Lachele (Ann Dunham, Ibunda Barry), Eko Noah (Lolo Soetoro, Ayah tiri Barry), Teuku Zacky (Turdi).

Inilah kisah kehidupan orang nomer satu Amerika Serikat, Presiden Barack Hussein Obama saat menetap di Indonesia pada tahun 1967, tepatnya di kawasan Menteng, Jakarta. Diangkat berdasarkan kisah novel karya Damien Dematra.

Sebuah kisah tentang persahabatan dan semangat seorang anak asal Afro Amerika, yang kelak menjadi pemimpin negara berpengaruh di jagat ini. Kisah inilah yang kemudian menjadi tema utama dari film ini.

Cerita diawali dengan kedatangan Obama kecil alias Barry (Hasan Faruq Ali), yang berusia sembilan tahun, tiba di Menteng, Jakarta Pusat, dan bersekolah di SD Negeri Besoeki 01 (sekarang SDN Menteng 01).

Sebagai pendatang baru di lingkungannya, Barry memiliki latar belakang yang campur aduk sehingga membuatnya kesulitan dalam beradaptasi. Maklum, Barry adalah anak blasteran Amerika dan Afrika.

Namun, persahabatannya dengan anak-anak tetangga yang berbeda ras dan strata sosial yaitu Slamet dan Yuniardi, serta pembantunya yang banci, Turdi (Teuku Zacky), membawa Barry ke berbagai pengalaman masa kecil yang tidak terlupakan walaupun Barry hanya 2,5 tahun tinggal di kawasan Menteng.

Berbagai permainan seperti ping pong, kelereng, dan juga layang-layang membuat Barry semakin akrab dengan Slamet dan Yuniardi. Barry juga memahami kehidupan unik Turdi, seorang transgender.

Hubungan mereka semakin memancing olok-olok anak-anak kampung yang dipimpin oleh Carut, yang pada dasarnya sudah tidak suka dengan Barry karena dia berbeda dengan kebanyakan anak-anak pribumi seusianya.

Semenjak itu pula Barry kerap bentrok dengan Carut. Keduanya sempat bentrok hanya karena Carut tidak menerima Barry bersama teman-teman kecilnya bermain bola di lapangan yang dianggap Carut sebagai daerah kekuasaannya.

Meski Barry dianggap berbeda, namun semua pengalaman ini mengajarkan kepadanya bahwa selain membuka diri dalam menerima perbedaan, tapi juga menerima dirinya sendiri sebagai orang yang beda seutuhnya.

Kehidupan Barry di Menteng sedikitnya telah membekali Barry dengan pelajaran nilai-nilai positif. Namun sayang, ketika Barry sudah berhasil beradaptasi dengan lingkungannya, sebuah konflik di rumahnya membuatnya harus pergi meninggalkan Menteng dan kembali ke Hawaii untuk mendapatkan pendidikan yang mampu mengembangkan potensi di dalam dirinya.

Tak ada ucapan perpisahan meninggalkan rasa getir di hati sahabat-sahabatnya. Namun, mereka yakin bahwa Menteng telah memberi banyak pengalaman tak terlupakan bagi Barry. Bahkan ketika Barry berhasil meraih cita-citanya menjadi Presiden Amerika Serikat.

Teman-teman masa kecil Barry pun ikut merasakan kebahagiaan Barry meskipun mereka jauh terpisahkan oleh jarak.

Obama Anak Menteng menjadi sebuah film dengan cerita sederhana dan inspiratif, namun menjadi bagian dari sejarah hidup orang nomor satu di Amerika, Barack Hussein Obama.

Selain itu, begitu banyak sisi positif diajarkan Ann Dunham kepada Barry kecil dalam menjalani kehidupan. Misalnya saja, Ann izinkan anaknya bermain dengan siapapun, juga berteman dan bersahabat dengan siapa saja.

Ann bahkan tidak setuju ketika Barry kecil menikmati kemenangannya setelah mengalahkan Carut, preman kecil di Menteng. Barry malah dimintanya minta maaf.

Dengan kesederhanaan dalam bertutur itulah film Obama Anak Menteng (Little Obama) diharapkan menjadi film yang sarat inspirasi tanpa terkesan menggurui. Dari sudut pandang tokoh Ann Dunham, film ini seakan ingin mengajak kaum ibu untuk memahami anak-anak. Ibu bisa menjadi mentor bagi anak-anaknya, seorang ibu juga memahami pilihan yang terbaik, melihat potensi seorang anak, sampai berkorban demi masa depan anaknya. Persis seperti yang Ann Dunham lakukan terhadap Barry kecil.

Tidak Main-Main

Sutradara film Obama Anak Menteng, John De Rantau mengklaim jika penggarapan film yang diangkat berdasarkan kisah nyata masa kecil Presiden Barack Obama, bukanlah suatu pekerjaan main-main.

“Saya menerima pekerjaan Obama ini adalah pekerjaan yang sangat cepat, kita enggak main-main karena kita mengangkat kisah hidup orang nomor satu di dunia,” ujar John saat ditemui dalam jumpa pers Obama Anak Menteng di FX Jakarta, Selasa (29/6/2010).

Dengan keseriusan penggarapan film tersebut, John tak menampik jika selama produksi film tekanan demi tekanan datang beruntun. “Memang banyak pressure, jadi saya harus hati-hati. Kebetulan saya penggemar berat Obama dan saya selalu membaca buku-buku Obama,” ujarnya.

Namun, bagaimanapun Obama Anak Menteng memberikan tantangan tersendiri bagi John untuk merampungkannya segera. “Saya memberanikan diri dan berani menempuh risiko karena saya tahu akan menjadi target buruan intelejen Amerika karena saya berani memberanikan diri memvisualkan diri orang nomor satu Amerika bahkan di dunia,” kupas John.

Lanjut John, “Ini harus bisa diterima dengan sesederhana mungkin di tengah perbedaan dengan satu kata yaitu memaafkan dan toleransi,” pungkasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: