Alunan Seni Tabuh Iringi Pemutaran Film “Bali Kuno”


Denpasar (ANTARA) – Alunan seni tabuh akan mengiringi pemutaran film “Bali Kuno” yang pernah menghebohkan masyarakat penonton di sejumlah negara, di wantilan Pura Desa Kedewatan, Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, 1-3 Juli 2010.

Pemutaran film dalam tiga judul yang berdeda itu, diiringi seni tabuh tradisional Pulau Dewata oleh puluhan seniman yang terhimpun dalam Sanggar Yayasan Pulau Seni Ubud, kata Putu Sudiari, salah seorang panitia pemutaran film “Bali Kuno”, di Kedewatan, Ubud, Selasa.

Ia menyebutkan, dua dari tiga judul film yang akan diputar, adalah sinema yang tidak dilengkapi dengan suara alias bisu.

Karenanya, kehadiran film bisu tersebut akan diisi oleh suara dari “luar”, yakni dari bunyi tetabuhan, ucapnya.

Tiga judul film yang akan diputar selama tiga hari itu, seluruhnya memanfaatkan lokasi pengambilan gambar di Pulau Dewata pada 1930-an.

Putu Sudiari mengatakan, sanggar pimpinan Myers itu akan tampil mengiringi pemuataran film yang telah diatur sedemikian rupa, dengan berbagai persiapan yang telah dilakukan secara matang.

“Puluhan seniman tabuh akan menunjukkan kebolehannya mengiringi adegan demi adegan pada layar tancap di wantilan Pura Desa Kedewatan,” ujar Putu Sudiari.

Ia menjelaskan, kolaborasi seniman tabuh dengan pemutaran film tempo dulu atau Bali Kuno tersebut, diharapkan mampu menyuguhkan hiburan yang sehat kepada masyarakat setempat, mengenai kehidupan para leluhurnya dalam mengembangkan dan mewarisi seni budaya Bali.

Sementara satu judul film lainnya sudah dilengkapi dengan suara, termasuk alunan musik tradisional Bali, sehingga pemutarannya tidak perlu diiringi penampilan dari Sanggar Yayasan Pulau Seni, tutur Sudiari.

General Manager Hotel Amandari Kedewatan Ubud, Liv Gussing, selaku panitia pemutaran film tersebut menjelaskan, tiga film yang dipersembahkan kepada masyarakat Bali masing-masing berjudul “Goona-Goona”, “Rolf de Mare” dan “The Island of Bali” yang seluruhnya memanfaatkan lokasi pengambilan gambar di Pulau Dewata pada 1930-an.

Ia menjelaskan, dalam pemutaran tiga judul film dekumenter tentang Bali dan seni tarinya, juga ditampilkan tiga judul film dari Amerika sebagai pembanding pertunjukan.

Pemutaran film wajah Bali 80 tahun silam, saat pariwisata belum membawa perubahan dahsyat di Pulau Dewata, dilakukan serangkaian memperingati hari ulang tahun ke-21 Amandari, sebuah resort wisata ekslusif di Ubud.

Pemutaran film dalam tiga malam itu seluruh enam judul, terselenggara berkat kerja sama dengan dua lembaga arsip film terkemuka di dunia, “Cinematheque de la Danse” di Paris (Prancis) dan “Dansemuseet di Stockholm” (Swedia).

“Kami di Amandari selalu berupaya untuk dapat berpartisipasi dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Bali. Pemutaran film ini kami harapkan dapat memberikan semangat kepada generasi muda Bali untuk terus melestarikan dan menghidupkan warisan kebudayaan mereka yang begitu agung,” ujar Liv Gussing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: