Selamat Datang Barang Sipil!


JERUSALEM, KOMPAS.com — Israel akan mengizinkan semua barang sipil memasuki Jalur Gaza, tetapi tetap melarang pengiriman senjata ke wilayah yang dikuasai Hamas itu, kata seorang pejabat Israel, Minggu (20/6/2010).
Kebijakan baru itu diambil untuk menanggapi seruan yang meningkat bagi pengenduran blokade empat tahun Israel terhadap wilayah kantong pesisir itu setelah pasukan negara Yahudi itu membunuh sembilan aktivis dalam penyerbuan 31 Mei terhadap kapal bantuan yang berusaha menerobos blokade tersebut.

“Pemerintah Israel hari ini telah mengambil langkah-langkah tambahan untuk mengizinkan masuknya barang sipil bagi penduduk sipil Jalur Gaza,” kata juru bicara pemerintah, Mark Regev.

“Mulai sekarang dan seterusnya, ada lampu hijau bagi semua barang untuk masuk ke Gaza, kecuali barang dan peralatan militer yang bisa memperkuat mesin militer Hamas,” katanya.

AS menyambut baik pengumuman itu dengan mengatakan, langkah tersebut bisa membantu rencana Israel mengendurkan blokade itu dan akan memperbaiki kondisi kehidupan di wilayah kantong miskin tersebut. “Kami yakin pelaksanaan kebijakan yang diumumkan Pemerintah Israel hari ini bisa memperbaiki kehidupan rakyat Gaza,” kata juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs, dalam sebuah pernyataan.

“Kami mendesak mereka semua yang ingin mengirim barang melakukannya melalui saluran-saluran resmi yang ada sehingga barang mereka bisa diperiksa dan diserahkan melalui penyeberangan darat ke Gaza,” kata Gibbs.

“Tidak perlu ada konfrontasi yang tidak seharusnya terjadi, dan kami mendesak semua pihak bertindak dengan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan penduduk Gaza,” tambahnya.

Pengumuman Israel itu disampaikan setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bertemu dengan utusan Kuartet Perdamaian Timur Tengah, Tony Blair.

Israel akan segera menerbitkan daftar barang yang dilarang, yang hanya mencakup senjata, bahan yang digunakan dalam peralatan tempur dan memiliki fungsi mendua yang menimbulkan masalah. Semua barang yang tidak ada dalam daftar itu akan diizinkan masuk ke Gaza,” kata pemerintah dalam sebuah pernyataan.

Israel menyulut amarah dunia ketika pasukannya membunuh sembilan aktivis Turki selama penyerbuan terhadap kapal bantuan pada Senin (31/5/2010) pagi. Hubungan Israel-Turki terperosok ke tingkat terendah sejak kedua negara itu mencapai kemitraan strategis pada 1990-an.

Setelah serangan itu, Mesir, yang mencapai perdamaian dengan Israel pada 1979, membuka perbatasan Rafah-nya untuk mengizinkan konvoi bantuan memasuki wilayah Gaza—kalangan luas melihatnya sebagai upaya untuk menangkal kecaman-kecaman atas peranan Mesir dalam blokade itu.

Kairo, yang berkoordinasi dengan Israel, hanya mengizinkan penyeberangan terbatas di perbatasannya sejak Hamas menguasai Gaza pada 2007.

Kekerasan parah dalam penyerbuan menjelang fajar Senin (31/5/2010) oleh pasukan Israel terjadi di kapal Turki, Mavi Marmara, yang memimpin armada kapal bantuan menuju Gaza.

Israel berkilah bahwa penumpang-penumpang kapal itu menyerang pasukan. Namun, penyelenggara armada kapal itu menyatakan bahwa pasukan Israel mulai melepaskan tembakan begitu mereka mendarat.

Jalur Gaza, kawasan pesisir yang padat penduduk, diblokade oleh Israel dan Mesir setelah Hamas berkuasa hampir tiga tahun lalu.

Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari.

Sejak itu wilayah pesisir miskin tersebut diblokade oleh Israel. Palestina pun menjadi dua wilayah kesatuan terpisah—Jalur Gaza yang dikuasai Hamas dan Tepi Barat yang berada di bawah pemerintahan Abbas.

Uni Eropa, Israel, dan AS memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris.

Hamas hingga kini masih terlibat dalam konflik dengan Israel, yang menarik diri dari wilayah pesisir Jalur Gaza pada 2005 namun tetap memblokadenya.

Perang di dan sekitar Gaza meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember 2008.

Israel membalas penembakan roket pejuang Palestina ke negara Yahudi tersebut dengan melancarkan gempuran udara besar-besaran dan serangan darat ke Gaza dalam perang tidak sebanding yang mendapat kecaman dan kutukan dari berbagai penjuru dunia.

Operasi Cast Lead Israel itu, yang menewaskan lebih dari 1.400 orang Palestina yang mencakup ratusan warga sipil dan menghancurkan sejumlah besar daerah di jalur pesisir, diklaim bertujuan mengakhiri penembakan roket dari Gaza. Tiga belas warga Israel tewas selama perang itu.

Proses perdamaian Timur Tengah macet sejak konflik itu, dan Jalur Gaza yang dikuasai Hamas masih tetap diblokade oleh Israel.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: