Di Afsel, Nama Batik Diubah


JOHANNESBURG, KOMPAS.com — Batik memang menjadi daya tarik seluruh dunia, termasuk di Afrika Selatan. Maka dari itu, tak heran jika banyak pihak ingin mengklaim batik sebagai karya bangsa mereka.
Afsel pun sebenarnya mengakui bahwa batik berasal dari Indonesia. Namun, mereka ingin melepas bayang-bayang Indonesia itu soal batik. Oleh sebab itu, di Afsel, nama batik tak terlalu dikenal. Masyarakat lebih kenal Madiba’s Shirt.

Madiba adalah nama panggilan Nelson Mandela, tokoh anti-apartheid yang sangat dihormati bangsa Afsel. Dia sering mengenakan batik di beberapa acara. Batik-batik Mandela kebanyakan dari Indonesia. Bahkan, Pemerintah Indonesia sering memberi hadiah berupa batik kepada Mandela. Bahkan, di Museum Apartheid ada keterangan bahwa Indonesia pernah memberi hadiah batik kepada Mandela.

Maka dari itu, masyarakat Afsel pun tahunya pakaian Mandela atau Madiba’s Shirt. Pasalnya, mereka mengenal batik dari Mandela. Kalau tanya batik di Afsel, maka masyarakat setempat akan mengernyitkan dahi. Begitu ditanya Madiba’s Shirt, mereka langsung tahu.

Menurut Kepala Indonesia Trade and Promotion Center (ITPC) yang berkantor di Johannesburg, Wawan Sudarmawan, Afrika Selatan sebenarnya adalah pasar batik yang potensial karena Mandela suka memakainya. Namun, penjualan masih terkendala.

“Perdagangan batik ke Afsel masih sebatas retail, kalau ada promosi saja. Belum ada pedagang setempat yang mau mengambil beberapa unit,” kata Wawan.

Menurutnya, sentimen kulit hitam dan putih masih terasa. Orang kulit putih jarang yang mau memakai batik karena sering dipakai Mandela. Mereka anggap batik identik dengan kulit hitam.

Masyarakat setempat pun juga punya tradisi membuat batik dalam beberapa tahun terakhir. Ini terinspirasi oleh pakaian Mandela, batik kiriman Indonesia. Namun, batik Afsel tak sebagus batik Indonesia. Mereka membuatnya dengan cara cap atau sablon dan coraknya disesuaikan dengan kultur setempat.

Penjualan batik Afsel juga belum terlalu banyak. Sepanjang pengamatan Kompas.com, sering kali batik Afsel justru ditemukan di tempat-tempat wisata dan cara memasarkannya dengan menggantung batik-batik itu di pagar atau di tempat-tempat pinggir jalan. Dengan demikian, kesannya batik Afsel adalah pakaian murahan.

Seperti yang terjadi di Museum Hector Pieterson, penjual batik menggantung dagangannya di pagar orang sehingga jarang yang mau datang untuk melihat, apalagi membelinya.

Ketika ditanya itu pakaian apa, maka sang penjual akan mengatakan Madiba’s Shirt, bukan batik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: