“Manuk Dalali” Meriahkan Tahun Emas Bandung-Braunschweig


London (ANTARA) – Lantunan lagu dan tarian “Manuk Dadali”, “Halo-Halo Bandung”, “Kicir-kicir”, dan “Pileuleuyan” oleh kelompok musik angklung dari sanggar seni “Hamburg Angklung Orchestra” memeriahkan peringatan Tahun Emas atau 50 tahun hubungan “sister city” antara kota Bandung dengan Braunschweig, Jerman.

Koordinator Fungsi Pensosbud, KJRI Hamburg, Yayat Sugiatna, kepada koresponden Antara London, Jumat, mengatakan peringatan Tahun Emas itu dirayakan dalam resepsi dan malam kesenian Indonesia di Gedung Altstadtrathaus yang merupakan balai kota tertua di Jerman yang dibangun pada abad ke-13.

“Tempat yang dipilih untuk acara tersebut mempunyai makna khusus untuk memperingati momentum penting dalam sejarah kedua kota yakni Bandung dan Braunschweig,” katanya.

Malam kesenian Indonesia itu dihadiri sekitar 150 tamu undangan, termasuk Dubes RI di Berlin dan Ny Eddy Pratomo, delegasi pemerintah Kota Bandung, pejabat kota Braunschweig, pengusaha setempat, “friend of Indonesia”, dan wakil masyarakat Indonesia di Braunschweig dan sekitarnya.

Penampilan musik angklung yang dimainkan 40 pelajar dan mahasiswa Indonesia di Hamburg itu mendapat sambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para penonton yang membawakan lagu-lagu daerah Jawa Barat dan Indonesia itu.

Mereka juga membawakan lagu-lagu pop barat, seperti “Besame Mucho”, “Moliende Cafe” (Kopi dangdut), “Song of Do Re Mi”, “New York – New York”, dan diakhiri dengan lagu “Mission Impossible.”

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Burgermeisterin, Braunschweig Friederike Harlfinger menyampaikan terima kasih atas kunjungan delegasi Bandung yang datang ke Braunschweig untuk membicarakan peningkatan kerja sama antara kedua kota itu.

Selain itu, Ny Harlfinger juga sangat berterima kasih atas inisiatif KBRI Berlin dan KJRI Hamburg untuk mengadakan malam peringatan itu dengan diadakannya resepsi dan malam budaya Indonesia .

Sementara itu, Dubes Eddy Pratomo menyampaikan harapannya acara peringatan 50 tahun “kota kembar” Bandung-Braunsweig dan Malam budaya Indonesia akan semakin mendekatkan hubungan Indonesia-Jerman, khususnya antara kota Bandung dan Braunschweig melalui “people to people contact” dan saling pengertian kedua masyarakat.

“Digelarnya peringatan 50 tahun sekaligus promosi budaya dan pariwisata Indonesia merupakan upaya meningkatkan pemahaman dan pengetahuan budaya dan tujuan wisata di Indonesia kepada masyarakat Jerman,” katanya.

Malam kesenian Indonesia juga dimeriahkan dengan Tari Jaipongan, yang merupakan salah satu identitas kesenian Jawa Barat, lalu disusul dengan Tari Merak dengan gerakan yang dinamis dengan tata busana para penari yang eksotis memukau para penonton.

Selain itu juga ditampilkan Tari Bali dan musik kecapi suling serta rampak kendang yang dibawakan dengan jenaka, sehingga hal itu mendapat sambutan meriah dan dengan gelak tawa para penonton.

Dalam kesempatan itu juga dihidangkan makanan kecil khas Indonesia, seperti sate, martabak, resoles, perkedel kentang, dan lain-lain.

Para undangan kagum dengan rangkaian penampilan kesenian Indonesia selama hampir dua jam nonstop dan menyatakan malam peringatan 50 tahun hubungan “sister city” Bandung-Braunschweig itu meningkatkan citra positif kota Bandung di kota Braunschweig dan sekitarnya.

Rencananya, delegasi Braunschweig akan mengadakan kunjungan balasan dari delegasi Bandung pada September mendatang dengan mengadakan kunjungan ke kota Bandung dan sekaligus menghadiri peringatan 200 tahun Kota Bandung.

Menurut Yayat Sugiatna, landasan atau dasar dari pembentukan kerja sama Kota Braunschweig dengan Bandung adalah saran Prof. Dr. George Eckert selaku staf UNESCO yang berpijak bahwa kedua kota tersebut memiliki Perguruan Tinggi Keguruan.

Setelah itu, persahabatan kedua kota ditandai dengan penandatanganan di Museum Kota Braunschweig pada Juni 1960. Saat itu, pihak Indonesia diwakili Duta Besar RI Dr Zairin Zain dan pihak Jerman diwakili Hans Gunther Weber (Direktur Kota) dan Oberburgermeister (Wali Kota Braunschweig) Ny Martha Fuchs.

Piagam persahabatan kedua kota tersebut disempurnakan setelah ditandatangani Wali Kota Bandung R. Prianatakusumah yang disaksikan tokoh Bandung dan utusan Braunschweig, Prof. Dr. Eckert di Bandung pada Mei 1960.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: