Anak Magelang di Panggung Madonna


Pengalaman sangat penting dalam kariernya sebagai penari itu bermula ketika ia selesai menari untuk membantu temannya, di Highways Performance Space, Los Angeles, Amerika Serikat.

Seorang yang mengaku agen pencari bakat mendatanginya, memberinya kartu nama, dan menyarankan agar ia ikut audisi untuk Madonna yang tengah mencari penari.

”Teman saya sedang membuat karya untuk ujian S-2. Saya membantunya sebagai penari,” kenang Eko Supriyanto (40) mengenai kejadian pada tahun 2001 itu. Waktu itu, ia sendiri tengah mengambil gelar master untuk bidang koreografi dan performans di Universitas California, Los Angeles (UCLA).

Seusai menari itulah ia didatangi seseorang yang mengaku agensi dari Gazilian Spencer. Kata orang tersebut, Madonna tengah butuh penari untuk videoklip. Kalau berminat, Eko diminta datang esok paginya. Serahkan saja kartu nama tersebut kepada pihak Madonna, begitu pesan orang tadi.

”Pukul enam pagi saya datang. Tempatnya di Sunset Boulevard,” cerita Eko menyebut bulevar sangat terkenal di LA. ”Ternyata di situ sudah ada ribuan orang. Bukan untuk videoklip, tetapi audisi untuk menjadi penari,” ujarnya.

Seleksi pendahuluan, peserta audisi—yang jumlahnya sekitar 6.000 orang—cukup berdiri berjajar beberapa belas peserta sekaligus. Kalau penyeleksi bilang thank you, si peserta harus tahu diri: menyingkir, alias tidak lolos. Kalau stay, mereka boleh tetap tinggal di tempat untuk seleksi selanjutnya. Pada pukul 18.00, Eko jadi salah satu peserta yang dinyatakan lolos. Ia diminta datang pada seleksi berikut, tiga hari kemudian.

”Yang lolos 300 orang. Hampir semuanya orang Amerika. Pada seleksi yang kedua ini Madonna datang. Kami ditanya-tanya,” katanya. Singkat kata, dari situ terpilih 12 penari, berasal dari proses audisi di LA yang diikuti 6.000 peserta, serta dari New York dengan peserta audisi berjumlah kurang lebih sama.

Inilah babak baru bagi anak Magelang, kelahiran Astambul, Kalimantan Selatan, 26 November 1970, itu untuk ambil bagian dalam tur Madonna di Amerika dan Eropa: ”Drown World Tour”. ”Latihan 3 bulan, dilanjutkan tur selama 9 bulan dengan total 268 show,” kata Eko.

Latihan dilakukan dengan disiplin sangat tinggi dan jadwal ketat. Setiap hari latihan pukul 08.00 sampai 23.00, dari hari Senin sampai Sabtu. Eko menceritakan, untuk mencuci pakaian pun ia tidak pernah sempat. Kedisiplinan, presisi gerak, di lain pihak ”kemakmuran” industri hiburan serta suasana kekeluargaan, dikenang Eko pada masa berikutnya ketika ia hidup ”di jalan” bersama seluruh rombongan Madonna yang berjumlah 280 orang.

”Kami jalan bareng tanpa ada perbedaan, apakah itu pemusik, penari, atau kru. Madonna sendiri selalu menekankan, ’The show is us, not only me’ (Pertunjukan ini kita semua, bukan hanya saya),” ucapnya. Semua punya hak sama, termasuk dalam menentukan menu makan. ”Saya minta masakan Jawa berupa tempe bacem pun dibikinkan. Dari mana tempenya, saya tidak tahu.” Eko juga berbangga, di situ tidak ada istilah ”penari latar” (back up dancer). Menurut Madonna, ”dancer is dancer” (penari adalah penari).

Di luar segi kekeluargaan, disiplin profesional merupakan hal yang tak bisa ditawar-tawar. Seorang penata rambut yang memasang wig miring langsung dipecat. Begitu pula juru masak, yang masakannya membikin sakit perut, langsung diberhentikan. Disiplin lain, seluruh kru tidak boleh mabuk. Kalau mereka pelesir keluar dari rombongan di suatu kota, pasti disertai pengawal yang bertugas mengawasi mereka. Jika mabuk, laporan akan segera sampai kepada sang mahabintang Madonna.

”Madonna sangat tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya berucap sekali dan itu harus dituruti. Seperti sabda pendita ratu,” ucap Eko tertawa. Di lain pihak, Sang Dewi ini juga dikenangnya sebagai sangat perhatian. Pernah Eko kecelakaan dalam pertunjukan di panggung yang membuatnya pingsan, disusul perawatan beberapa hari selama tur. Selama ia dalam perawatan, katanya, hampir setiap jam Madonna menelepon menanyakan keadaannya.

Dengan pengalaman seperti itu, tak terbayang ketika tur berakhir dan semua pemain harus berpisah. Eko masih ingat bagaimana pertunjukan terakhir berlangsung di Los Angeles, bertepatan dengan ulang tahun Madonna. Madonna dikenal tidak menyukai kejutan. Justru saat itu, semua pemain bersepakat untuk mengejutkan Madonna dengan mengacak-acak urutan, bahkan semua pakem pertunjukan terakhir tersebut.

”Pertunjukan terakhir benar-benar khaos. Urutan lagu berubah tanpa Madonna tahu dan tak bisa apa-apa. Seusai pertunjukan, Madonna menangis karena terharu,” cerita Eko. Katanya, Madonna kembali menangis ketika dalam malam perpisahan Eko menyerahkan keris sebagai kenang-kenangan.

Kembali ke Solo Kini, Eko kembali ke Institut Seni Indonesia (ISI), Surakarta, kampus yang membesarkannya. Melatih para penari yang juga mahasiswanya untuk pentas drama musik Diana, Eko berdiri di tengah ruang latihan di kampus itu sembari menceritakan betapa bersejarah tempat latihan itu baginya. ”Dari mahasiswa saya latihan di sini,” katanya.

Ia menarik lebih ke belakang lagi kisah hidupnya sebelum menentukan jalan hidup sebagai penari. Semasa kecil, ia berlatih pencak silat kepada kakeknya, Djoyo Prajitno, di Magelang. Darah seni pada dirinya kemungkinan mengalir dari sang kakek. Ia melanjutkan ke ISI Surakarta setamat Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Magelang.

Ia menyebut semua orang terdekatnya yang berjasa bagi kariernya, yakni Soebardjono dan Supriyati (keduanya sudah almarhum), adik satu-satunya Dwi Rahayu Fitriyanti, istrinya yang juga penari dan koreografer, Astri Kusuma Wardani, serta anak-anaknya: Candra Suryavimala dan Lintang Hinepukohu. Mereka itulah yang mendorong anak Magelang ini bukan hanya di panggung Madonna, tetapi juga keikutsertaan dalam berbagai proyek dalam negeri sendiri ataupun internasional. Salah satunya, kalau Anda ke New York, nonton Lion King di Broadway, di situ Eko juga punya jejak sebagai konsultan tari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: