Menag: Umat Islam Perlu Punya Rasa Malu


Jakarta (ANTARA) – Menteri Agama Suryadharma Ali mengatakan, umat Muslim perlu punya rasa malu apabila hanya pada saat-saat terdesak, pada saat cemas dan mengharap, baru berkunjung ke hadirat-Nya.

Padahal umat Islam menghadap kepada Allah, melalui salat, hanya lima kali dalam sehari, kata Suryadharma Ali ketika memberikan sambutan pada tabligh akbar Badan Kontak Majlis Ta`lim (BKMT) di Bekasi, Senin.

Acara Tablig Akbar tersebut diselenggarakan dalam rangka Pekan Isra Mi`raj Nabi Muhammad SAW.

“Hanya lima kali sehari Allah mengundang kita menghadap kepada-Nya. Malu rasanya kita, yang memperoleh anugerah-Nya yang tak terbilang, mengabaikan ajakan itu, apalagi salat merupakan kebutuhan kita sendiri. Malu pula rasanya apabila hanya pada saat-saat terdesak, pada saat cemas dan mengharap, kita baru berkunjung ke hadirat-Nya,” katanya lagi.

Dengan salat, lanjut dia, hati, pikiran, lisan, dan anggota tubuh, mengejawantahkan keyakinan. Di sini salat telah menjadi kebutuhan bukan lagi beban, atau kewajiban.

Manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan harap, ia selalu membutuhkan sandaran, terutama pada saat-saat cemas. Kenyataan membuktikan bahwa bersandar kepada makhluk betapapun kekuatan dan kekuasaannya seringkali tidak membuahkan hasil.

“Hai manusia kamulah orang-orang yang miskin (butuh) kepada Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji,” kata Menag.

Seorang muslim dalam salatnya menghimpun segala bentuk dan cara penghormatan dan pengagungan yang dikenal umat manusia, di sana ada isyarat penghormatan dengan tangan, berdiri tetak, menunduk (ruku`), sujud, ada puji-pujian, ada doa dan harapan.

Ia mengatakan, penghormatan dan pengagungan ini merupakan salah satu esensi salat. Di sisi lain, salat secara harfiah berarti permohonan. Ini berarti yang salat melakukan permohonan kepada Allah.

Tidak adil bagi yang salat, bila hanya permohonannya yang dia harapkan terkabul, sedang orang lain yang meminta kepada si pemohon itu, dia abaikan. Bahkan orang semacam ini kata Quran bakal celaka hidupnya, katanya.

“Celaka yang salat tapi lengah akan salatnya, mereka yang riya` bermuka dua dan enggan memberi pertolongan,” katanya.

Nilai pembelajaran

Peristiwa Isra dan Mi`raj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh dengan nilai-nilai pembelajaran seharusnya dapat memberi keinsafan agar senantiasa mengingat Allah dan selalu takut kepada-Nya, katanya.

Allah telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Rasulullah SAW. Peristiwa ini juga mengandung misi utama yakni perintah menunaikan ibadah salat lima waktu.

Perintah Illahi tersebut merupakan kewajiban yang diketahui oleh semua muslim dari generasi ke generasi, katanya.

Manusia, kata dia, lebih-lebih para ilmuwan, membutuhkan kepastian tentang tata kerja alam ini demi pengembangan ilmu dan penerapannya. Kepastian ini tidak dapat diperoleh kecuali dengan keyakinan adanya pengendalian dan penguasa tunggal yang Maha Esa itu, Allah SWT.

Ia berharap, umat muslim dapat menjalankan seluruh perintah Allah Swt.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: