Beli Kambing “Online”, Mengapa Tidak?


BALI, KOMPAS.com — Rasa penasaran muncul ketika suatu hari seorang kawan memasang sejumlah foto kambing peranakan ettawa (PE) di sebuah situs jejaring sosial.

Desy mengaku setiap hari ada saja pesanan yang harus dilayaninya, hingga akhirnya ia memilih keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan sepenuhnya mengurusi toko online-nya.

Mulanya saya kira ia hanya pamer piaraan kesayangannya. Namun, belakangan setelah saya tanya lebih jauh, barulah saya tahu ia juga menjual kambing-kambing itu secara online.

Cukup dengan googling sebentar, ternyata pasar kambing pun kini tersaji di internet. Seperti terlihat dalam beberapa situs, kambing-kambing ditawarkan, mulai dari anakan, betina siap kawin, betina sudah bunting, hingga pejantan dengan aneka kualitas.

Selain memajang foto, penjual pun menambahkan detailnya, seperti panjang telinga sekian sentimeter hingga ukuran gigi sang kambing. Pindahnya pasar kambing ke internet itu adalah salah satu penanda pesatnya perkembangan toko online atau virtual saat ini.

Beberapa tahun lalu, kita hanya bisa mengakses barang-barang elektronik, seperti televisi dan tape recorder, buku, hingga kamera digital yang jelas dan terukur garansinya. Kini, hampir semua barang ditawarkan secara online, baik melalui situs web khusus, laman blog, maupun situs pertemanan dan jejaring sosial.

Aneka produk fashion, dari baju anak-anak hingga dewasa, dari sarung hingga mukena, dapat dengan mudah dipesan. Demikian pula aneka produk kecantikan, kerajinan, dan oleh-oleh khas daerah.

Soal sistem pembayaran, ada yang benar-benar online atau sistem 50:50, yakni penawaran dilakukan secara online namun pembayaran masih lewat transfer via ATM atau kantor pos. Modal ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah dilakukan dalam satu media di bisnis ini, yakni internet.

Menghapus jarak

Menjajakan aneka produk busana muslim, misalnya, sudah dilakoni Desy Wulandari, warga Denpasar, setengah tahun terakhir. Mulanya hal itu dilakukan di sela-sela kesibukannya bekerja di sebuah perusahaan kargo.

Modal pertamanya hanya berkisar Rp 500 juta. Selain lewat blognya, Desy juga memasang produknya via jejaring sosial seperti Facebook dengan nama yang sama dengan versi blognya.

Desy mengaku setiap hari ada saja pesanan yang harus dilayaninya, hingga akhirnya ia memilih keluar dari perusahaan tempatnya bekerja dan sepenuhnya mengurusi toko online-nya.

“Mula-mulanya saya memang sering membeli aneka produk secara online. Dari sana lalu terpikir untuk membuka toko online sendiri dan ternyata laku,” kata Desy, akhir Mei lalu, seraya mengaku beromzet rata-rata Rp 10 juta per bulan.

Ia kini menyiapkan situs web khusus sebagai tempat baru menjajakan dagangannya. Ia yakin bahwa pemberdayaan ekonomi dapat dilakukan melalui jalan ini, baik bagi dirinya maupun lingkungan di sekitarnya.

Ia juga menerapkan sistem kulakan, memproduksi sendiri barang-barangnya, juga menitipkan jasa pembuatan ke orang atau pihak lain. Mata rantai pemberdayaan itu berjalan dari satu pihak ke pihak lain, yang bermuara pada kepuasan konsumen akhir.

Pilihan membuka situs web tersendiri telah lebih dulu dipilih Arif Wicaksono yang bersama istrinya, Rukha Wicaksono, mengembangkan butik online.

Arif mengaku, omzet usahanya terus berkembang hingga mencapai puluhan juta rupiah per bulan. Dan, hal itu antara lain juga dipengaruhi oleh adanya situs web tersebut. Tentu saja pembukaan situs web itu harus diimbangi dengan penataan tampilan dan terus memperbarui produk dan tampilannya.

“Selain itu, kami juga melakukan search engine optimization sehingga situs web kami selalu muncul di halaman-halaman awal ketika orang menggunakan fasilitas mesin pencarian di internet,” kata Arif.

Desy mengaku, hampir sebagian besar wilayah di Indonesia pernah memesan produknya, mulai dari Banda Aceh hingga sejumlah kota di Papua. Ini sejalan dengan misi internet yang dapat menjangkau semua wilayah asalkan ada jaringannya.

Khusus pemesan produk yang ditawarkan secara online, misalnya, harus memastikan ada tidaknya jasa pos pengantar hingga wilayahnya. Ini sekaligus menjadi gambaran pemerataan wilayah dan akses mendapatkan informasi sekaligus barang yang diinginkan.

Belanja secara online maupun jumlah toko online di Indonesia diprediksi akan terus meningkat seiring meningkatnya jumlah pengguna internet di Tanah Air. Cukup dengan memanfaatkan jejaring sosial seperti Facebook, misalnya, yang awal tahun ini menurut survei eMarketer penggunanya di Indonesia mencapai 15,3 juta, bisa dibayangkan potensi sebuah jual beli secara online. Jumlah itu lebih kurang separuh jumlah pengguna aktif internet di Tanah Air.

Perkembangan teknologi dalam mengakses internet juga ikut memengaruhi, salah satunya penggunaan teknologi 3G. Menurut data salah satu operator seluler, Telkomsel, misalnya, servis dan layanan produk Flash maupun BlackBerry Internet Service (BIS) melalui Telkomsel di wilayah Bali dan Nusa Tenggara terus meningkat pesat.

Pada periode April 2009-2010, misalnya, layanan Flash time based meningkat hingga 135 persen, unlimited 353 persen, volume based 165 persen, dan angka fenomenal dicatat pada layanan Flash small denomination hingga 1.247 persen.

Lonjakan itu terus berlanjut pada empat bulan pertama tahun ini. Layanan Flash time based meningkat hingga 131 persen, unlimited 105 persen, volume based 81 persen, dan Flash small denomination sekitar 86 persen.

Corporate Communications Telkomsel Bali Nusa Tenggara Hari Purwanto mengungkapkan, untuk penggunaan BlackBerry di Balinusra pada Februari-Maret 2010, pertumbuhannya masih di atas 100 persen, yakni sekitar 120 persen, dengan pertumbuhan pelanggan di Kupang (NTT) yang paling tinggi mencapai sekitar 123 persen.

Porsi BIS Unlimited Bulanan masih terbesar dengan porsi 43 persen, diikuti BIS Unlimited harian 24 persen. Yang menarik adalah data bahwa pelanggan BIS Paket Social Networking selama Februari-Maret 2010 tumbuh hingga 117 persen.

Dasar kepercayaan

Pengamat multimedia di Bali, Roy Rudolf Huizen, menyatakan, sebagaimana etika bisnis dengan media apa pun, dasar kepercayaan menjadi yang utama dalam praktik toko online atau e-bisnis. Ketika Anda dapat dipercaya, barang yang Anda tawarkan berkualitas, dan kualitas itu mampu Anda jaga ketika barang itu sampai di tangan konsumen, bisnis Anda akan berjalan terus.

“Seperti halnya pemesanan kambing secara online itu. Asal cocok, kambingnya sesuai pesanan, pesanannya tidak masalah ketika sampai di konsumen, waktunya tepat sesuai kesepakatan, maka kemungkinan besar pembelinya bertambah di masa selanjutnya,” kata Roy.

Menurut Roy, salah satu tolok ukur mendapatkan kepercayaan adalah memantapkan unsur legalitas, yang antara lain meliputi sistem dan cara pembayaran yang jelas, pengiriman, serta proses monitoring secara keseluruhan atas barang-barang yang dijual.

Bagi konsumen, Roy tetap meminta agar mereka tetap bijaksana sekaligus hati-hati dan selektif terhadap pihak yang ingin menipu atau mencuri data keuangan seseorang melalui sistem ini. Maka dari itu, unsur legalitas menjadi tolok ukur utama.

Internet yang makin mudah diakses dengan berbagai media terbukti tak hanya sebagai kebutuhan, tetapi juga telah menjadi bagian dari gaya hidup zaman ini.

Benarlah bila pergeseran kebutuhan pada informasi secara terus-menerus terjadi dan kehidupan menjadi terasa lebih cepat. Selamat menikmati kecepatan-kecepatan tak terduga di dunia belanja online.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: