Aih… Sudah Langka, Alur Beli Tiket Pun Rumit


KOMPAS.com — Kemarin, panitia penyelenggara putaran final Piala Dunia 2010 Afrika Selatan kembali mengeluarkan kebijakan baru tentang tiket. Hasil rapat jajaran eksekutif FIFA menyebutkan, panitia kembali membuka loket penjualan tiket secara langsung dengan sistem pembayaran kontan.
Sebanyak 58.000 tiket tambahan berbagai kelas disebar kembali untuk konsumen yang langsung datang ke tempat yang sudah ditunjuk FIFA. Sebanyak 15.000 tiket diberikan untuk level harga kelas 1-4, yakni berkisar antara 100 rand sampai 400 rand. Sementara itu, sisanya ditujukan bagi mereka yang mau membayar seharga antara 1.400 rand dan 2.100 rand. Dua jenis tiket terakhir berkelas VIP khusus untuk partai pembukaan, partai yang dilakukan timnas Afsel, babak perempat final, semifinal, dan final.

Meski sudah dibuka kembali dengan banyak tiket, tetapi tetap saja sangat sulit untuk mendapat selembar tiket. Hal ini nukan hanya karena tiket yang tiba-tiba langka, melainkan juga alur untuk mendapatkan tiket begitu rumit.

Wartawan Tribunnews.com, Mohamad Nurfahmi Budiarto, yang ikut langsung dalam antrean mengungkapkan, kesempatan untuk mendapat satu lembar tiket benar-benar memerlukan waktu cukup lama. Pertama, seseorang yang ingin membeli tiket harus mengantre di tempat registrasi untuk mengisi biodata secara lengkap.

Setelah selesai, mereka harus mengantre lagi untuk menentukan tiket partai apa saja yang akan mereka beli, sesuai dengan jatah yang sudah ditentukan. Selepas level ini, masih ada antrean lagi untuk mendapatkan nomor khusus yang dicap di lengan, yang berfungsi sebagai kode.

Belum selesai, para pembeli harus naik ke lantai atas untuk mengantre pembayaran. Setelah itu, barulah mereka mengantre untuk mendapatkan tiket. Langkah tersebut makin tidak efisien karena masing-masing tahap berada di tempat yang berbeda sehingga belum tentu calon pembeli bisa menyelesaikan sistem dalam satu hari. Apalagi bagi turis ataupun pendatang, mereka akan direpotkan dengan jaminan.

“Sangat aneh, seharusnya kami tinggal mengantre saja sembari mengisi daftar biodata, lalu menyerahkan paspor, meneliti dokumen kami, dan tinggal membayar. Tapi ini benar-benar menyulitkan siapa pun, terutama kami yang datang sebagai turis,” ujar Thomas Andreas, seorang warga negara Denmark.

Ternyata tidak hanya orang asing, warga lokal juga memiliki kesulitan akses yang sama. Imran, misalnya, warga lokal Pretoria, harus mengantre sampai dua hari untuk bisa sampai pada tahap penyerahan uang. Nyatanya, ia masih terkatung-katung dan harus banyak berdoa agar masih kebagian tiket.

“Mereka seperti kurang siap dengan apa yang seharusnya dikerjakan untuk menyambut pergelaran besar seperti ini. Kini, saya hanya bisa berdoa semoga tiket tak habis saat saya sudah berada di depan loket,” harap Imran saat ditemui Tribunnews.com di lokasi penjualan resmi tiket FIFA di kawasan Brooklyn.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: